Rabu, Juni 04, 2014

Takut dan Harapan

Selamat malam para pencaci
Mulut nyinyir beraroma busuk
Mengusik kian kemari
Membabi buta menyuarakan kesalahan lawan
Tak ubahnya para pendosa memanggil penikmat dosa lainnya dengan sebutan bejat padahal artinya seirama
Merasa diri paling mampu dan pantas
Meraih simpati kaum kaum yang telah lama terpinggir
Kaum kaum yang kehilangan kepercayaan untuk setiap jenis kepala
Memaksa kaum berpartisipasi setelah itu lupa dan pura pura lupa akibat kecelakaan seperti dalam sinetron negeri ini
Mengadu domba antar pendukung
Memberi sekat agar tercipta konflik
Setelah itu dingin tak ada bukti setelah cerita dan janji
Yang ada hanya sesal dan takut
Takut memilih dan dicampakan
Takut menjadi bagian orang yang akan merasa bersalah saat pilihannya tak amanah
Takut melihat kekacauan lebih besar yang akan terjadi pada keturunan
Miris menyaksikan negeri yang di dalamnya saling menghancurkan
Kenyataan si putih di samarkan dan si hitam dengan gagah menempati kuasa dengan nyaman
Si putih di cela ketika ide gilanya yang membangun belum terealisasi akibat ketidakpercayaan manusia tanah ini yang miskin pengertian akan pentingnya proses daripada hasil sedangkan si hitam dibiarkan bebas berkeliaran dengan banyak aksinya di jagat tanpa hujatan dan hukuman
Ah begitu rendah kualitas negeriku
Aku sebagai rakyat yang awam sistem pemerintahan hanya berharap, semoga suatu hari akan ada masanya Indonesia menjadi satu satunya negara yang ingin ditempati oleh setiap makhluk dan aku bangga karenanya.

0 Comments:

Posting Komentar

Social Profiles

Twitter Facebook Instagram LinkedIn RSS Feed Email Pinterest

Advertise

Popular Posts

Advertise

Categories

Advertise

FOLLOWER

BTemplates.com

Blogroll

Pinterest

About

Copyright © Coretan Tanpa Arti | Powered by Blogger
Design by Okta Riady | Blogger Theme by Tasbih Group - Tasbih